-->

Iran dan Amerika Serikat Berada di Ambang Peperangan?


AntariMedia.com - Panglima Garda Revolusi Iran Mayor Jenderal Qassim Sulaimani tewas dalam sebuah serangan pesawat nirawak (drone) ke Bandara Internasional Baghdad, Jumat (3/1). Sulaimani, panglima Garda Revolusi Iran (IRGC) dan Abu Mahdi al-Muhandis, wakil panglima Hashd al-Mashabi (PMF), pasukan milisi Irak dukungan Iran, termasuk korban tewas dalam serangan udara Amerika Serikat ini.

Dengan tewasnya Mayor Jenderal Qassim Sulaimani, potensi kedua negara terlibat perang cukup besar. Berikut ulasannya:

Pembunuhan Panglima Mayjen Qassim Sulaiman Atas Perintah Trump

Pembunuhan Panglima Garda Revolusi Iran Mayor Jenderal Qassim Sulaimani ternyata atas perintah Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Serangan ini terjadi setelah kemarin Menteri Pertahanan AS, Mark T Esper mengatakan Amerika akan melancarkan serangan pencegahan kepada pasukan milisi Irak dukungan Iran jika ada tanda-tanda mereka akan menyerang pangkalan militer dan tentara AS.

Iran Janji akan Balas Dendam

Tewasnya Sulaimani menjadi pukulan telak bagi Iran. Mantan Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan akan melancarkan balas dendam terhadap Amerika Serikat yang telah membunuh Panglima Garda Revolusi Qassim Sulaimani dalam sebuah serangan drone di Bandara Internasional Baghdad, Irak pagi tadi.

"Sulaimani menjadi syuhada bersama saudara-saudara lainnya tapi kami akan membalas keras Amerika," kata Mohsen Rezai, yang saat ini adalah Kepala Dewan Kebijaksaan dalam kicauannya di Twitter.

Kantor berita ISNA melaporkan, badan keamanan tertinggi Iran juga langsung mengadakan rapat darurat atas kejadian itu.

"Dalam beberapa jam ke depan rapat darurat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi akan digelar untuk membahas serangan terhadap kendaraan Jenderal Sulaimani di Baghdad yang membuat beliau syahid," kata ISNA mengutip juru bicara Keyvan Khosravi, seperti dilansir laman Channel News Asia, Jumat (3/1).

Seruan Perlawanan dari Ayatullah Ali Khamenei

Pemimpin Spiritual Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei berjanji akan membalas kematian Sulaimani.

"Syahid adalah balasan bagi segala jasanya selama ini," tulis Khamenei di Twitter.

"Dengan kematiannya, insya Allah segala jasa dan warisannya tidak akan berhenti, tapi pembalasan dendam akan menghampiri para kriminal yang tangan mereka penuh darah para syuhada setelah insiden tadi malam," tulis Khamenei.

Kedubes AS di Negara Dekat Iran Mulai Tutup

Menyusul tewasnya Panglima Garda Revolusi Iran Mayor Jenderal Qassim Sulaimani, Kedutaan AS di Baghdad menyerukan seluruh warga AS segera meninggalkan Irak.

"Dikarenakan meningkatnya ketegangan di Irak dan kawasan, Kedutaan AS menyerukan warga Amerika memperhatikan imbauan perjalanan Januari 2020 dan meninggalkan Irak secepatnya," kata pernyataan kedutaan AS, seperti dilansir laman Dawn, Jumat (3/1).

"Warga AS harus meninggalkan Irak dengan pesawat jika memungkinkan atau lewat darat jika tidak bisa".

Kedutaan AS di Baghdad memang sedang memanas sejak beberapa hari yang lalu. Mereka marah dan memprotes serangan udara AS yang menewaskan sedikitnya 25 milisi Irak yang didukung Iran pada Minggu malam.

Sejumlah orang juga memanjat tembok kedutaan. Mereka meneriakkan "Mampuslah Amerika!" seraya melemparkan botol, batu, dan menghancurkan kamera pengawas di kedutaan. Massa juga mencoret tembok kedutaan meminta AS menarik pasukannya dari Irak.

Hubungan Iran dan AS Sudah Lama Tak Baik

Hubungan Iran dan AS mulai memanas sejak tahun 2002. Saat itu, Presiden George W Bush mencap tiga negara, yakni Korea Utara, Iran dan Irak, sebagai negara-negara jahat yang menurutnya menampung, membiayai, dan membantu para teroris.

"Negara-negara seperti ini, dan sekutu teroris mereka, merupakan poros kejahatan, mempersenjatai untuk mengancam perdamaian dunia. Dengan mencari senjata pemusnah massal, rezim-rezim ini menimbulkan bahaya besar dan semakin besar. Mereka bisa memberikan senjata-senjata ini kepada para teroris, mereka bisa memberi cara untuk menyebar kebencian mereka. Mereka bisa menyerang sekutu kita atau mencoba memeras Amerika Serikat," kata Bush saat itu.

"Kami akan bekerja sama dengan koalisi kami untuk menyangkal teroris dan negara mereka mensponsori bahan, teknologi, dan keahlian untuk membuat dan mengirimkan senjata pemusnah massal," tambah Bush.

Kemudian pada tahun yang sama, oposisi Iran mengungkapkan Iran mengembangkan fasilitas nuklir termasuk pengayaan uranium. Hal ini membuat AS dan Israel geram.

Kemudian pada 2015, setelah berbagai upaya diplomatik, Iran menyetujui kesepakatan jangka panjang pada program nuklirnya dengan sekelompok kekuatan dunia yang dikenal sebagai P5 +1 - AS, Inggris, Prancis, China, Rusia dan Jerman.

Alhasil pada 2018, Presiden AS Donald Trump menerapkan perjanjian nuklir dengan Iran. Sejak saat itu, hubungan AS dan Iran semakin memburuk.

Armada Militer AS dan Iran Kerap Bersitegang

Ketengan militer antara kedua negara juga kerap terjadi. Pada 2019 lalu, Komando Sentral AS (CENTCOM) mengatakan pembom B-52 Stratofortress Amerika yang dikirim ke Timur Tengah telah tiba di pangkalan AS di Qatar, Mei 2019. Pembom B-52 akan menjadi antisipasi dari ancaman Iran di pangkalan AS di Qatar.

"Kedatangan B-52. Pesawat Stratofortress B-52H AS yang ditugaskan ke Skadron Bom Ekspedisi ke-20 diparkir di jalur penerbangan 8 Mei 2019," tulis sebuah judul unggahan, dikutip dari Reuters.

Pada 20 Juni, pasukan Iran menembak jatuh pesawat tanpa awak militer AS di Selat Hormuz. Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran mengatakan pesawat itu telah melanggar wilayah udara Iran, dan insiden itu mengirim "pesan yang jelas ke Amerika".

Namun militer AS bersikeras bahwa pesawat tak berawak itu berada di atas perairan internasional. Alhasil AS mengutuk serangan tersebut sebagai "serangan tidak beralasan" yang dilakukan IRGC.

"Iran membuat kesalahan yang sangat besar!" kata cuitan Presiden AS Donald Trump melalui akun Twitternya.

Kemudian kapal induk Angkatan Laut AS diusir oleh kapal Iranian Revolutionary Guards Corp (IRGC). Kejadian ini terjadi saat meningkatnya ketegangan di perairan Teluk. Kapal-kapal Iran yang terdiri dari 20 kapal kecil dilaporkan mengepung dan diduga "melecehkan" USS Abraham Lincoln.

Tak hanya kapal USS Abraham Lincoln, ada pula kapal penjelajah rudal USS Leyte Gulf dan kapal perusak rudal USS Farragut yang sedang melalui Selat Hormuz. (merdeka)

Posting Komentar