-->

Polemik Masker Pasar Jaya: Dari Rp 300.000 Jadi Rp 125.000, Kok Masih Mahal?

Polemik Masker Pasar Jaya: Dari Rp 300.000 Jadi Rp 125.000, Kok Masih Mahal? - Merebaknya Virus Corona di Indonesia terutama DKI Jakarta, membuat masyarakat menjadi was-was. Hal itu membuat masker, hand sanitizer, hingga pengukur suhu tubuh diburu masyarakat.

Harga ketiga barang tersebut pun melonjak tinggi karena kebutuhan yang tinggi tetapi pasokan langka. Polemik harga masker yang tinggi pun belakangan menyeruak.

Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI PD Pasar Jaya.

Pada Selasa (3/3/2020) lalu, PD Pasar Jaya ini menambah 1.450 boks stok penjualan masker di Jakarta untuk meningkatkan kewaspadaan penularan COVID-19.

"Kalau sekarang kan isunya stok masker habis. Nah, kami hari ini sedang dalam upaya untuk bisa menghadirkan itu. Kurang lebih, kita sedang mengadakan 1.450 boks masker," ucap Manajer Bidang Umum dan Humas PD Pasar Jaya Gatra Vagansa.

Polemik harga Rp 300.000

Meski menyetok masker, harga yang dipatok terbilang mahal. Untuk harga satu boks masker dari PD Pasar Jaya dipatok dengan harga Rp 300.000 dengan isi 50 lembar.

Masker yang dijual bermerek Wellbest dengan harga satuannya Rp 6.500 per 1 lembar. Gatra mengakui harga normal masker tersebut sekitar Rp 30.000. Artinya, harga yang dijual naik sepuluh kali lipat.

"Kalau yang paling biasa yang warna hijau itu mungkin kurang lebih harganya cuma 30.000-an kalau enggak salah di (Pasar) Pramuka. Iya, betul (harganya naik). Memang harga perolehannya sendiri saat ini naik," ujarnya.

Penyediaan masker tersebut bisa dibeli di JakGrosir Induk Kramat Jati serta seluruh gerai Perumda Pasar Jaya seperti JakMart, Mini DC, dan PopMom Store.

Dikritik DPRD hingga YLKI

Harga masker yang mahal ini pun mendapat kritikan dari DPRD DKI Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Anggota Fraksi PSI DPRD DKI Eneng Malianasari menilai tindakan tersebut justru menyengsarakan masyarakat karena seolah meraup keuntungan.

"Jakarta sedang darurat, ini bukan saatnya meraup keuntungan. Justru di situasi seperti ini, jangan kita menari di atas keresahan orang. Lebih baik tidak berjualan jika mematok harga tinggi," ujar Eneng saat dikonfirmasi, Kamis (5/3/2020).

Penjualan ini juga seolah mengingkari komitmen Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang akan menomorsatukan keselamatan warga dalam penganganan infeksi virus Corona.

Menurut Eneng, dengan menjual masker seharga Rp 300.000 per boksnya justru memperlihatkan ekonomi yang didahulukan dan kebutuhan masyarakat diabaikan.

"Padahal pemerintah memiliki kewajiban menjamin kestabilan harga dan ketersediaan masker untuk seluruh masyarakat, bukan malah menjadikan kepanikan masyarakat menjadi kesempatan untuk mendapatkan uang," kata dia.

Tak hanya dari anggota DPRD, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) juga mengecam kebijakan BUMD milik DKI ini.

Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi menilai, PD Pasar Jaya justru melakukan eksploitasi konsumen karena harga yang tidak wajar di tengah merebaknya virus corona.

"Iya itu namanya enggak ada bedanya malah mengeksploitasi warga, mengeksploitasi konsumen. Ini hal yang tidak bermoral yang dilakukan PD Pasar Jaya selaku pasar yang notabene milik pemerintah," ucap Tulus.

Menurut dia, jika pengusaha swasta saja dianggap tidak bermoral dan tidak berempati terhadap warga dengan menjual masker dengan harga yang tinggi, maka Pasar Jaya pun lebih tidak bermoral.

Tulus meminta agar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menegur PD Pasar Jaya.

"Nah itu yang saya kira ngawur itu PD Pasar Jaya. Anies harus menengur Dirut Pasar Jaya," kata dia.

Dirut Pasar Jaya akui salah

Pasca polemik tersebut, Direktur Utama PD Pasar Jaya Arief Nasrudin pun buka suara mengenai harga masker yang tinggi itu.

Ia mengakui bahwa rencana penjualan 1.450 boks masker dengan harga Rp 300.000 memang bentuk keteledoran PD Pasar Jaya.

"Sebenarnya keterangannya memang belum lengkap, balik lagi itu salah saya. Kita beli itu harganya sudah segitu. Bukan kita jualnya (dinaikkan) harga segitu. Ini melakukan preskon untuk meluruskan hal hal yang belum lengkap kita berikan," ucap Arief dalam konferensi pers di Pasar Pramuka, Jakarta Timur.

Menurut Arief, harga masker dari PD Pasar Jaya sempat terbilang mahal karena pasokan masker yang sulit didapat. Tak hanya itu, Arief mengklaim harga masker dari distributor pun memang mahal.

"Jadi kami waktu membeli barang (masker) memang kita nyarinya memang agak susah dan market harganya seperti itu kita ketemu. Tetapi wujudnya juga enggak kelihatan, jadi kita nyamperin ke beberapa lokasi itu lokasinya ternyata enggak ada," kata dia.

Bahkan, di sebagian distributor ketersediaan masker sudah ludes. Pasar Jaya pun harus mengikuti pre-order (PO) untuk bisa mendapatkan masker.

"Jadi dipastikan vendor-vendor ini memang barangnya sudah habis dan sebagainya. Dan kita buka PO, jadi PO itu dengan permintaan harga dari mereka dengan harga segitu. Kemudain kemarin kita ngecek di pasar harganya sama di harga di pasar Rp 400.000 per boks," terangnya.

Dijual Rp 125.000 per boks

Pada akhirnya, PD Pasar Jaya menurunkan harga masker yakni Rp 125.000 per boks. Arief mengatakan untuk satu lembar masker dihargai Rp 2.500 dan bisa dibeli di Pasar Pramuka, Jakarta Timur.

"Kita akan operasi pasar, masker ini kita jual nanti untuk di Pasar Pramuka itu per masker Rp 2.500. Jadi akan dibatasi karena Pasar Pramuka jenisnya grosir, jadi satu orang akan kemudian beli satu boks," ucap Arief di Pasar Pramuka.

Menurut Arief, harga tersebut merupakan bentuk kesepakatan dengan para pedagang di Pasar Pramuka. Untuk saat ini, PD Pasar Jaya menyetok 1 juta lembar masker atau 20 ribu boks untuk dijual ke masyarakat.

Dijatah 1 orang 1 boks

Meski demikian, pembelian masker di Pasar Pramuka dijatah satu boks untuk satu orang. Hal ini dilakukan agar banyak masyarakat yang bisa memperoleh masker serta menghindari pembelian dalam jumlah banyak.

Adapun masker yang disediakan adalah 20.000 boks atau satu juta lembar. Dengan rincian, satu boksnya berisi 50 lembar masker.

"Saya bilang di sini tidak boleh ada spekulan jadi dibatasi satu orang satu boks," jelasnya.

Selain di Pasar Pramuka, masker juga dijual di gerai-gerai Pasar Jaya lainnya seperti JakGrosir, JakMart. Namun, di sana warga tidak bisa membeli satu boks melainkan hanya 2 lembar.

"Kita punya gerai JakGrosir, JakMart, gerai-gerai kecamatan hanya dua pcs tapi harganya lebih murah Rp 1.950 per masker," kata dia.

Arief mengimbau agar masyarakat jangan panik dengan ketersediaan dan tingginya harga masker.

Menurut dia, harga itu sudah cukup wajar mengingat masker cukup langka didapatkan saat ini.


Sumber: https://megapolitan.kompas.com/read/2020/03/06/09164991/polemik-masker-pasar-jaya-dari-rp-300000-jadi-rp-125000-kok-masih-mahal?page=all#page5