-->

Ibadah Haji 2020 Dibatalkan, Ternyata Rukun Islam ke-5 Itu Pernah 40 Kali ditiadakan, Lihat Datanya

Ibadah Haji 2020 Dibatalkan, Ternyata Rukun Islam ke-5 Itu Pernah 40 Kali ditiadakan, Lihat Datanya

AntariMedia.com - Breaking news! Pemerintah menyampaikan, ibadah haji 2020 untuk jamaah asal Indonesia ditiadakan atau dibatalkan karena pandemi Virus Corona atau Covid-19.

Wacana untuk membatalkan pelaksanaan ibadah haji 2020 sudah lama bergulir.

Dikhawatirkan jika ibadah haji tetap dilaksanakan, angka penularan akan meningkat dan sangat berpotensi menyebabkan jatuhnya jutaan korban jiwa.

Kementerian Agama memutuskan untuk membatalkan pemberangkatan jemaah haji Indonesia tahun 2020. Keputusan tersebut diambil mengingat pandemi Covid-19 masih melanda hampir seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia dan Arab Saudi.

"Pihak Arab Saudi tak kunjung membuka akses bagi jemaah haji dari negara mana pun. Akibatnya, pemerintah tidak mungkin lagi memiliki cukup waktu untuk melakukan persiapan, utamanya dalam pelayanan dan perlindungan jemaah," kata Menteri Agama Fachrul Razi dalam konferensi pers secara virtual, Selasa (2/6/2020).

"Berdasarkan kenyataan tersebut, pemerintah memutuskan untuk tidak memberangkatkan jemaah haji pada tahun 2020 atau tahun 1441 Hijriah ini," lanjutnya mengatakan.

Keputusan pembatalan pemberangkatan jemaah haji Indonesia tahun 1441 Hijriah dituangkan melalui Keputusan Menteri Agama RI Nomor 494 Tahun 2020.

Dalam keputusan itu, Fachrul Razi menegaskan bahwa pembatalan pemberangkatan ibadah haji tahun ini berlaku untuk seluruh warga negara Indonesia tanpa terkecuali.

Artinya, pembatalan itu tidak hanya berlaku untuk jemaah yang menggunakan kuota haji pemerintah baik regular maupun khusus, tetapi juga jemaah yang akan menggunakan visa haji mujamalah atau undangan, atau furada yang menggunakan visa khusus yang diterbitkan Pemerintah Arab Saudi.

"Jadi tahun ini tidak ada pemberangkatan haji dari Indonesia bagi seluruh warga Indonesia," kata purnawirawan jenderal TNI itu menegaskan.

Menurut Fachrul Razi, selain persyaratan kemampuan secara ekonomi dan fisik, jemaah haji juga harus diberikan jaminan atas kesehatan, keselamatan, dan keamanan.

Fachrul Razi menyadari, pembatalan pemberangkatan ibadah haji ini merupakan keputusan yang cukup pahit dan sulit.

Di satu sisi pemerintah telah berupaya untuk menyiapkan penyelenggaraan haji, tetapi di sisi lain pemerintah juga bertanggung jawab dalam menjamin keselamatan warganya dari risiko Covid-19.

Namun demikian, setelah melalui kajian yang mendalam dari berbagai aspek, pemerintah meyakini pembatalan pemberangkatan ibadah haji tahun ini merupakan keputusan yang terbaik.

"Keputusan yang pahit ini kita yakini yang paling tepat dan paling maslahat bagi jemaah dan petugas kita semua," kata Fachrul Razi.

Sejarah Pembatalan Ibadah Haji


Pembatalan pelaksanaan ibadah haji, rukun Islam kelima buka hanya terjadi pada tahun ini.

Menurut data The Saudi King Abdul Aziz Foundation for Research and Archives yang dirilis pada Maret, sebagaimana dikutip dari BBC, ibadah haji pernah 40 kali ditiadakan dalam sejarah peradaban manusia, dengan alasan beragam, mulai dari perang sampai wabah penyakit menular.

Pada 1814, Kerajaan Arab Saudi dilanda wabah thaun, yang juga melanda Mekah dan Madinah sehingga Ka'bah harus ditutup sementara.

Lalu tahun 1831, ada wabah dari India, yang dicurigai adalah kolera, dan bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji.

Periset mencatat setidaknya 75 persen jemaah haji meninggal dunia dan pelaksanaannya dihentikan di tengah jalan.

Kolera kembali ditemukan di Arab Saudi pada 1846-1892, dan haji pun batal dilaksanakan pada 1850, 1865, dan 1883.

Ibadah haji sempat dilaksanakan pada 1864, namun menelan 1.000 korban jiwa per harinya karena terjangkit kolera.

Pada 1987, wabah meningitis menyambangi ibadah haji dan penyebaran penyakit ini menginfeksi setidaknya 10.000 peserta haji.

Update Virus Corona di Dunia


Jumlah pasien terinfeksi Virus Corona di dunia, hingga Selasa (2/6/2020) pukul 8.47 WIB adalah 6.365.473 kasus.

Jumlah tersebut bertambah hampir 84 ribu kasus sejak kemarin sore.

Pasalnya, pada Senin (1/6/2020) pukul 16.02 WIB jumlah terkonfirmasi adalah 6.281.599 kasus.

Dari 6,36 juta orang yang positif terinfeksi Covid-19, 377.404 pasien meninggal dunia dan 2.903.418 dinyatakan sembuh.

Terdapat 213 negara dan wilayah di seluruh dunia yang telah melaporkan Covid-19.

Selain itu, pandemi juga menyebar di dua transportasi angkut Internasional, yakni Diamond Princess yang bersandar di Yokohama, Jepang dan Kapal pesiar MS Zaandam Holland America.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Jumlah kasus orang terjangkit Virus Corona ( Covid-19 ) di Indonesia per Senin (1/6/2020) ini, bertambah.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto memaparkan, dalam 24 jam terakhir, terdapat penambahan kasus sebanyak 467.

"Dari hasil pemeriksaan, sudah terkonfirmasi sebanyak 467 positif Covid-19, sehingga angkanya menjadi 26.940," ujar Achmad Yurianto dalam konferensi pers di Gedung Graha BNPB, Jakarta, Senin.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.641 meninggal dunia.

Sementara itu, sebanyak 7,637 pasien dinyatakan sembuh setelah dua kali tes dinyatakan negatif Covid-19.

Jumlah pasien sembuh itu diketahui bertambah 329 dalam 24 jam terakhir.

Achmad Yurianto menegaskan bahwa penularan Covid-19 masih terjadi di tengah masyarakat.

Oleh sebab itu, pemerintah tidak henti-hentinya mengimbau masyarakat untuk tetap beraktivitas dari rumah masing-masing. Sekalipun keluar rumah, dihiarapkan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Mulai dari menggunakan masker dengan benar, menjaga jarak fisik dengan orang lain, mencuci tangan setelah beraktivitas di luar rumah hingga melakukan olahraga teratur.

Achmad Yurianto juga mengajak segenap bangsa untuk tetap produktif di tengah pandemi.

"Kita harus bangkit bersama-sama, bergotong royong untuk kemudian bisa produktif kembali di tengah situasi pandemi Covid-19 ini," ujar dia.

Indonesia menempati urutan ke-33 dengan jumlah pasien Covid-19 terbanyak di dunia.

Sementara di Asia, Indonesia menempati urutan ke-12, selisih ribuan angka di bawah Singapura, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.

Data Worldmeters menunjukkan ada 16 negara dengan jumlah Covid-19 yang melebihi China - negara pertama yang mengidentifikasi adanya Virus Corona baru pada akhir Desember 2019.

Berikut urutan konfirmasi pasien Covid-19 mulai dari yang paling banyak, yakni AS, Brasil, Rusia, Spanyol, Inggris, Italia, India, Perancis, Jerman, Peru, Turki, Iran, Chili, Meksiko, Kanada, dan Arab Saudi.

Untuk Amerika Serikat sendiri, orang yang dikonfirmasi terinfeksi corona sudah lebih dari 1,85 juta kasus.

Jumlah kasus Virus Corona terbanyak di dunia.

Angka positif yang didapat Amerika Serikat ini pun sejalan dengan banyaknya tes Covid-19 yang dilakukan negara adidaya itu.

Hingga saat ini, total tes Covid-19 yang sudah dilakukan di AS lebih dari 18,1 juta.

Menurut data Worldmeters, setidaknya 54.859 orang per satu juta warga Amerika Serikat sudah diuji tes Covid-19.

Sementara itu, ada 6 negara yang mencatatkan jumlah kematian lebih dari 25.000, yakni AS, Inggris, Italia, Brasil, Perancis, dan Spanyol.

Kabar baiknya, jumlah pasien sembuh di seluruh dunia terus bertambah.

Untuk China, dari 83.022 orang yang dikonfirmasi positif corona, 78.315 di antaranya sembuh.

Hingga saat ini ada 73 pasien yang masih dalam perawatan.

Tidak ada penambahan korban meninggal di China sejak Ahad atau Minggu (24/5/2020).

Selain China, Jerman juga mencatatkan pertumbuhan pasien sembuh yang banyak. Lebih dari 183 ribu warga Jerman dikonfirmasi positif Covid-19.

Hingga saat ini, 165.900 pasien sembuh, dan yang masih menjalani perawatan 9.247 orang.

Berikut adalah 35 negara dengan kasus positif virus corona terbanyak hingga Selasa (2/6/2020) menurut Worldometer:

1. Amerika Serikat: 1.859.323 terinfeksi (+22.153) dan 106.925 meninggal (+730)

2. Brasil: 529.405 terinfeksi (+14.413) dan 30.046 meninggal (+705)

3. Rusia: 414.878 terinfeksi dan 4.855 meninggal

4. Spanyol: 286.718 terinfeksi (+209) dan 27.127 meninggal

5. Inggris: 276.332 terinfeksi (+1.570) dan 39.045 meninggal (+556)

6. Italia: 233.197 terinfeksi (+200) dan 33.475 meninggal (+60)

7. India: 198.370 terinfeksi (+7.329) dan 5.608 meninggal (+195)

8. Perancis: 189.220 terinfeksi (+338) dan 28.833 meninggal (+31)

9. Jerman: 183.765 terinfeksi (+271) dan 8.618 meninggal (+13)

10. Peru: 170.039 terinfeksi (+5.563) dan 4.634 meninggal (+128)

11. Turki: 164.769 terinfeksi (+827) dan 4.563 meninggal (+23)

12. Iran: 154.445 terinfeksi (+2.979) dan 7.878 meninggal (+81)

13. Chili: 105.159 terinfeksi (+5.471) dan 1.113 meninggal (+59)

14. Meksiko: 93.435 terinfeksi (+2.771) dan 10.167 meninggal (+237)

15. Kanada: 91.705 terinfeksi dan 7.326 meninggal (+222)

16. Saudi Arabia: 87.142 terinfeksi (+1.881) dan 525 meninggal (+22)

17. China: 83.022 terinfeksi (+5) dan 4.634 meninggal

18. Pakistan: 72.460 terinfeksi dan 1.543 meninggal

19. Belgia: 58.517 terinfeksi dan 9.486 meninggal

20. Qatar: 58.433 terinfeksi dan 40 meninggal

21. Bangladesh: 49.534 terinfeksi dan 672 meninggal

22. Belanda: 46.545 terinfeksi dan 5.962 meninggal

23. Belarus: 43.403 terinfeksi dan 240 meninggal

24. Ekuador: 39.098 terinfeksi dan 3.358 meninggal

25. Swedia: 37.814 terinfeksi dan 4.403 meninggal

26. Singapura: 35.292 terinfeksi dan 24 meninggal

27. Uni Emirat Arab: 35.192 terinfeksi dan 266 meninggal

28. Afrika Selatan: 34.357 terinfeksi dan 705 meninggal

29. Portugal: 32.700 terinfeksi dan 1.424 meninggal

30. Swiss: 30.871 terinfeksi dan 1.920 meninggal

31. Kolombia: 30.493 terinfeksi dan 969 meninggal

32. Kuwait: 27.762 terinfeksi dan 220 meninggal

33. Indonesia: 26.940 terinfeksi dan 1.641 meninggal

34. Mesir: 26.384 terinfeksi dan 1.005 meninggal

35. Irlandia: 25.062 terinfeksi dan 1.650 meninggal.

Sebagai catatan, penambahan data di atas berdasar catatan Worldmeters pada Senin (1/6/2020) pukul 16.02 WIB hingga Selasa (2/6/2020) pukul 8.47 WIB.

Sumber: Tribun-Timur.com


Posting Komentar