-->

Virus Ebola Kembali Merebak di Kongo, Bagaimana Penularan Ebola?

Virus Ebola Kembali Merebak di Kongo, Bagaimana Penularan Ebola?

AntariMedia.com - Virus ebola kembali dilaporkan telah merebak di Kongo, salah satu negara yang berada di Benua Afrika.

Selama ini, virus Ebola adalah salah satu momok bagi benua ini.

Berdasarkan data yang dilaporkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), virus ebola pertama kali muncul ada di dekat Sungai Ebola, Kongo, yakni terjadi pada 1976.

Pada saat itu, virus Ebola telah menginfeksi 318 orang, dan 88 persen di antara penderitanya dinyatakan meninggal dunia.

Virus Ebola ini kemudian terus terjadi dari waktu ke waktu di berbagai negara di Afrika, bahkan sudah menyebar ke negara Eropa seperti Italia, Inggris, Spanyol, dan juga Amerika Serikat.

Dan kini, virus Ebola 2020 telah kembali merebak di Kongo.

Mengutip DW, Senin (1/6/2020), Kongo telah mengumumkan kasus epidemi baru Ebola, hal ini dikarenakan 4 orang meninggal dunia karena terkonfirmasi terinfeksi virus Ebola 2020.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus juga menyampaikan informasi yang sama melalui akun Twitter-nya.


Sejak pertama terjadi dan pada kejadian-kejadian penyebaran selanjutnya, tingkat fatalitas virus ebola dinilai sangatlah tinggi, yakni mencapai kisaran 50 persen.

Pada penyebaran yang pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya, adapun tingkat kematian bervariasi mulai dari 25-90 persen.

Penyakit jenis ini memang terbilang langka, artinya secara kuantitas tidak begitu tinggi, tetapi virus Ebola ini memiliki risiko kematian yang begitu tinggi.

Virus ebola


Mengutip dari laman John Hopkins Medicine, ebola adalah virus yang menyebabkan terjadinya penggumpalan darah serta menimbulkan pendarahan di dalam.

Darah kemudian bocor, lalu keluar dari pembuluh darah kecil ke bagian tubuh.

Oleh karena itu, virus ini juga dikenal sebagai bagian dari hemorrhagic fever virus atau virus demam berdarah.

Efek dari virus ebola ini juga bisa menyebabkan peradangan serta kerusakan jaringan.

Hingga sampai saat ini, WHO menyebutkan sudah menemukan 6 jenis berbeda dari virus ebola.

Adapun jenis-jenisnya itu adalah Zaire, Bundibugyo, Sudan, Taï Forest, Reston dan Bombali.

Tetapi, hanya 4 dari 6 jenis virus itu yang dapat menimbulkan penyakit pada manusia, yakni Zaire, Sudan, Taï Forest, dan Bundibugyo.

Sedangkan untuk virus Reston diketahui menyebabkan penyakit pada primata dan babi.

Adapun, virus bombali yang teridentifikasi pada kelelawar masih belum diketahui apakah menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan.

Cara penularan ebola


Ebola dapat menyebar melalui kontak secara langsung melalui cairan tubuh penderita, mulai dari darah, air liur, keringat, air mata, lendir, muntahan, kotoran, ASI, air seni, hingga air mani.

Selain itu, ketika seseorang menyentuh permukaan benda yang sudah terkontaminasi oleh cairan yang mengandung virus itu, maka ia juga berpotensi turut terinfeksi.

Cara masuk ke dalam tubuh, virus ini bisa melalui kulit yang terluka, atau apabila mengenai bagian mulut, hidung, dan mata yang di sana terdapat membran mukosa.

Hubungan badan dengan penderita ebola juga bisa menyebabkan seseorang terinfeksi.

Bukan hanya orang terinfeksi yang berpotensi menularkan virus ebola tersebut.

Berdasarkan informasi dari CDC, penderita yang sudah dinyatakan sembuh dari virus ebola pun masih memiliki risiko menularkan virus pada orang lain.

Penyebabnya, karena virus ini mampu bertahan di cairan tubuh tertentu, misal seperti air mani orang yang telah sembuh.

Merujuk informasi yang didapat dari WHO, virus ini pertama kali ditularkan kepada manusia dari hewan liar yang ada di dalam populasi.

Hewan liar yang menjadi reservoir alami atau inang virus ebola belum diketahui hingga sampai kini.

Akan tetapi, para peneliti menganggap kelelawar buah dan primata seperti monyet, simpanse, dan kera sebagai asal virus ini sebelum ditularkan oleh manusia ke manusia.

Masa inkubasi dan gejala


Masa inkubasi virus di dalam tubuh kurang lebih berkisar antara 2-21 hari. Tetapi, penderita tidak akan mampu menularkan virus kepada orang lain, apabila dalam dirinya belum muncul gejala.

Untuk gejalanya yang dimaksud ialah seperti demam, pusing, sakit otot, sakit kepala, dan radang tenggorokan yang terjadi secara tiba-tiba.

Gejala lain yang mungkin mengikutinya adalah muntah, diare, ruam, gangguan fungsi ginjal dan hati, dan pendarahan (seperti dari gusi, tinja, dan sebagainya).

Pengobatan dan perawatan


Bagi mereka yang telah terinfeksi virus ini harus mendapatkan perawatan dan dukungan medis secara intensif.

Jika penanganan tepat tidak segera diberikan, maka kemungkinan besar kasus akan berujung fatal.

Sama seperti Covid-19, virus ebola ini juga belum memiliki vaksin legal atau obat yang bisa digunakan untuk menyembuhkan infeksi, baik pada manusia maupun hewan.

Serangkaian terapi darah, imunologi, dan obat hingga saat ini terus dikembangkan dan diupayakan untuk menangani kasus yang terjadi.

Salah satu vaksin yang dikembangkan dan tengah diuji coba adalah rVSV-ZEBOV. Pada wabah yang terjadi tahun 2015, 11.841 orang dilibatkan dalam uji coba ini.

Sebanyak 5.837 diberikan vaksin, sisanya tidak.

Pada mereka yang menerima vaksin, dalam 10 hari setelahnya tidak ada satu pun yang terinfeksi ebola.

Namun pada mereka yang tidak menerima vaksin, dalam jangka waktu yang sama tercatat 23 kasus ebola ditemukan.

Vaksin inilah yang saat ini digunakan dalam menangani wabah yang tengah berlangsung di Kongo.

Meski terbilang efektif, vaksin ini belum mendapat lisensi atau pengesahan sebagai vaksin virus ebola.

Kunci penting untuk mengendalikan penyebaran penyakit ini adalah dengan melibatkan masyarakat luas.

Penerapan sejumlah upaya intervensi juga penting untuk mengendalikan laju infeksi, mulai dari manajemen kasus, menerapkan praktik pencegahan, melakukan pengawasan, pelacakan kontak, dukungan laboratorium yang berfungsi baik, praktik pemakaman yang aman, hingga dilakukannya mobilisasi sosial.

Pengendalian wabah yang baik bergantung pada penerapan paket intervensi, yaitu manajemen kasus, praktik pencegahan dan pengendalian infeksi, pengawasan dan pelacakan kontak, layanan laboratorium yang baik, penguburan yang aman dan bermartabat serta mobilisasi sosial.

Jika penderita infeksi virus ebola berhasil disembuhkan dengan obat tertentu, mereka masih akan tetap merasakan efek samping dari proses pemulihan itu.

Seperti merasakan kelelahan, sakit pada otot, masalah penglihatan, dan sakit perut.

Sumber: Kompas.com

Posting Komentar