-->
loading...

Statusnya Masih Honorer, Ajudan Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat Ikut Terseret Dalam Kasus Jual Beli Jabatan

Statusnya Masih Honorer, Ajudan Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat Ikut Terseret Dalam Kasus Jual Beli Jabatan - M Izza Muhtadin nampaknya menjadi satu-satunya karyawan non pegawai negeri sipil (PNS) atau honorer yang terlibat menjadi tersangka dalam kasus Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat.

Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat
Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat 

Sedangkan untuk lima orang lainnya merupakan camat yang bertugas di bawah pimpinan Bupati Novi Rahman Hidayat.

Mereka bertujuh sudah ditetapkan menjadi tersangka kasus jual beli jabatan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

M Izza Muhtadin yang merupakan ajudan Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat juga ikut terciduk dalam rangka operasi tangkap tangan (OTT) KPK dan Bareskrim Polri, hari Minggu (9/5/2021). 

Sama dengan Bupati Nganjuk Novi Rahman HIdayat, M Izza Muhtadin ditetapkan juga sebagai tersangka dalam kasus korupsi jual beli jabatan.

Dalam kasus Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat, M Izza Muhtadin berperan sebagai pengumpul uang suap yang di dapat dari para camat yang kemudian di serahkan kepada Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono berkata, modus operasi dalam kasus ini berawal dari para camat yang memberikan sejumlah uang kepada Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat.

"Sejumlah uang itu diberikan melalui ajudan Bupati terkait mutasi dan promosi jabatan mereka dan pengisian jabatan tingkat kecamatan di jajaran Kabupaten Nganjuk," kata Argo dalam konferensi pers di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta dalam tayangan Kompas TV, hari Selasa (11/5/2021).

Argo juga menjelaskan, ada para camat yang memberi uang adalah Dupriono adalah Camat Pace. Kemudian Camat Tanjunganom yang bernama Edie Srijato, Camat Berbek dengan nama Haryanto, dan juga Camat Loceret yang bernama Bambang Subagio.

Lalu masih ada yang terakhir adalah, satu mantan camat Sukomoro yang juga ditetapkan sebagai tersangka yakni Tri Basuki Widodo.

Sama halnya dengan para camat lainnya, Tri dikabarkan juga memberi hadiah atau janji terkait pengisian jabatan di lingkungan Pemkab Nganjuk.

Argo juga menjelaskan, empat camat dan juga satu mantan camat tersebut memberikan uang kepada Ajudan Bupati Nganjuk yaitu M Izza Muhtadin.

Sama seperti empat camat dan satu mantan camat, Izza juga telah ditetapkan tersangka oleh Polri.

"Ajudan Bupati Nganjuk menyerahkan uang tersebut kepada Bupati Nganjuk," jelasnya.

Argo berkata lagi, keempat camat dan juga satu mantan camat tersebut akan terancam hukuman pidana Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b dan atau Pasal 13 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001.

Lalu untuk ajudan Bupati Nganjuk disangkakan melanggar pasal Pasal 5 ayat (2) dan atau Pasal 11 dan Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana yang diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Semua tersangka nantinya juga akan dijerat dengan pasal berlapis yakni pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Lantas, bagaimana sih sosok ajudan bupati Nganjuk?

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh wartawan surya.co.id, Izza ternyata bukanlah seorang aparatur sipil negara (ASN).

Status Izza pun baru tenaga harian lepas (THL) alias honorer.

"Dia berasal dari Jombang," ucap sumber surya.co.id.

Pria yang penampilannya memiliki model rambut cepak dan juga rapi ini dikenal sebagai seorang yang pendiam dan tidak banyak bicara.

"Dia baru menjadi ajudan Bupati Nganjuk setahun terakhir," .

Patok Harga Rp 2 Juta Hingga Rp 50 Juta

Info terbaru dalam kasus ini, Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat ternyata mematok harga yang bervariasi dalam kasus jual-beli jabatan di lingkungan pemerintah Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur.

Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Pol Argo Yuwono menyampaikan Jika Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat mematok harga termurah senilai Rp 2 juta sedangkan yang termahal senilai Rp 50 juta.

Menurut Argo, tingkat harga yang ditawarkan oleh Bupati Nganjuk tergantung dari posisi atau level struktur jabatan tersebut.

Adapun jabatannya ialah mulai dari jabatan di perangkat desa sampai tingkat kecamatan.

"Setorannya bervariasi ya. Karena juga ada dari desa yang dia ngumpulkan, dari kepala desa. Ada yang Rp 2 juta. Juga ada nanti dikumpulkan naik ke atas, desa ke kecamatan, ada juga yang Rp 15 juta juga ada. Rp 50 juta juga ada. Jadi bervariasi antara Rp 2 juta sampai Rp 50 juta," ucap Argo di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (11/5/2021).

Sampai saat ini, lanjut Argo, penyidik Bareskrim Polri masih terus memeriksa tersangka.

Karena, tersangka baru tiba di Bareskrim Polri pada hari Senin (10/5/2021) malam hari.

Nanti, para penyidik Polri bakal mendalami kasus ini mulai kapan dan modus Bupati Nganjuk Novi Rahman melakukan jual-beli jabatan pada lingkungan pemerintah kabupaten Nganjuk, provinsi Jawa Timur.

"Jadi ini sedang kita dalami dari nanti pemeriksaan Bupati dan juga tersangka lain ini sudah berapa lama ini berlangsung, ini sedang nanti kita dalami. Nanti kita riksa mendetil seperti apa, berapa jumlah setorannya, ada berapa kali, berlangsung berapa lama, kita masih belum mendapatkan, berapa tahun yang bersangkutan itu melakukan jual beli jabatan itu," jelasnya.

Dalami Aliran Dana

Di sisi lain, Bareskrim Polri juga masih mendalami dugaan adanya aliran dana tersangka dugaan kasus jual-beli jabatan Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat ke partai politik (parpol).

"Sampai sekarang kita belum mendapatkan ya (aliran dana ke parpol). Tentunya kan tadi saya sampaikan sama dengan pertanyaan yang lain, nanti pasti akan kita dalami ya oleh penyidik Ditipikor Bareskrim," terang Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Pol Argo Yuwono di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (11/5/2021).

Argo juga menyampaikan, jika Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat, baru tiba di Bareskrim Polri pada hari Senin (10/5/2021) malam hari.

Penyidik juga belum sempat melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap tersangka.

"Nanti pasti akan kita perdalam, kita tanyakan secara mendetail, terima uang, uang dibelikan apa, uang dikirim ke mana, atau uang dibuat apa, jadi nanti ya nanti kita tunggu nanti dari penyidik tipikor bareskrim untuk melakukan pendalaman," jelasnya.

Bareskrim Polri pada sebelumnya telah menetapkan Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat sebagai tersangka dugaan kasus jual-beli jabatan.

Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap pelaku jual beli jabatan itu sebelumnya dilakukan bersama KPK.

Selain Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat, penyidik Polri tak ketinggalan juga memboyong 6 tersangka lainnya yakni Camat Pace, Dupriono, Camat Tanjunganom dan sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Camat Sukomoro, Edie Srijato.

Selanjutnya, Camat Berbek Haryanto, Camat Loceret Bambang Subagio, mantan Camat Sukomoro Tri Basuki Widodo dan ajudan Bupati Nganjuk M Izza Muhtadin.

Dalam kasus ini, Bupati Nganjuk disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (2) dan atau Pasal 11 dan Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana yang diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sumber: Tribunnews.com


Posting Komentar

close
.....Klik 2x (Close).....
loading...